Kelelahan, Kakek Tua Itu Duduk di Pinggir Jalan

Waktu itu langit terlihat gelap dan suasana terasa sejuk. Sore yang indah bagiku. Aku suka suasana seperti ini. Saat itu juga aku sedang asik bermain sambil bekerja di depan komputer. Ku lihat jam di komputer, waktu sudah menunjukkan jam 3 lewat. Sesaat kemudian, adzan ashar berbunyi. Aku pun bergegas ke mesjid bersama seorang sahabatku. Karena mesjid masih belum rapi maka aku mengambil air wudhu dari rumah sahabatku ini.

Kami berdua menunaikan ibadah jamaah di masjid terdekat. Kami memasuki sebuah mesjid yang sudah beberapa minggu ini masih sedang dalam proses renovasi. Keadaan mesjid pun masih cukup berantakan. Puing-puing dan semen masih tampak jelas di permukaan lantai. Khawatir juga kalau tiba-tiba air hujan masuk karena genteng yang masih belum tersusun rapi. Namun proses ibadah jamaah kami berjalan dengan lancar dan hujan juga belum turun.

Selesai menunaikan ibadah, kami pun pulang. Sahabatku pulang duluan, aku belakangan. Melewati jalan aspal sempit aku berjalan. Mendekati halaman depan rumah, aku melihat ada seorang bapak berjalan dari jalan menanjak. Ku amati ia, ia tiba-tiba duduk setelah hanya beberapa saat ku lihat ia berdiri dengan sambil memegangi 2 kantong plastik hitam.


Merasa iba dengan orang itu, lalu ku hampiri bapak tua itu. Makin mendekat, makin nampak bahwa ia bukan seorang bapak melainkan seorang kakek tua. Tampak ia sedang duduk sambil megap-megap mengambil nafas. Mungkin karena kelelahan berjalan. Ku pikir kakek tua ini sedang dagang, rupanya bukan. Ku tanya kakek tua itu, "bapak badhe kamana". Sok-sokan pakai bahasa sunda, yang padahal aku sendiri gak terlalu ngerti, apalagi benar atau salahnya. Ahh, yang penting niat hati tulus. Kakek tua itu menjawab, aku sendiri kurang ngerti jawabannya. Beberapa kali ku tanya, barulah jelas jawabannya. Sudah cukup jauh ia berjalan ke tempat duduknya di pelataran sekolah yang jalannya rata dengan aspal di depannya. Di situlah kakek tua itu berdiri.

Wah, kakek tua ini jauh juga jalan ke sini dari jalan raya di depan sana. Ditambah lagi membawa barang dagangannya yang gak enteng. Setelah ku tanya, barulah kakek tua itu menjelaskan arah tujuannya. Sang kakek menerangkan hendak akan ke jalan tanjakan ke arah sana. Aku tahu arahnya ke mana. Lalu cepat-cepat ku ambil motorku. "Bapak tunggu di sini ya", pintaku kepada sang kakek. Moncong motor baru keluar pagar, eh si kakek sudah jalan ke arahku. Lalu ku persilakan sang kakek untuk naik ke motor, sedangkan kantong plastik bawaannya yang paling berat ku letakkan di depan di pijakkan kaki.

Nyalakan mesin, kami pun jalan pelan-pelan. Mendekati sebuah turunan tajam, aku berusaha mengendalikan kecepatan sepelan mungkin, tapi tak bisa. Apa boleh buat, rem motor tak mampu menahan beban yang melampaui batas kemampuan rem. Ku biarkan saja, motor melaju lebih kencang mengikuti jalan turunan. Belum selesai di turunan, kami harus melalui tanjakan tajam. Lalu tarik gas untuk melalui jalan ini. Kasihan juga si kakek kalau naik motornya model gini. Syukurlah sang kakek tetap tenang selama perjalanan.

Beberapa saat kemudian sang kakek minta berhenti. Ku pinggirkan motorku di pinggir jalan yang belum rata benar. Sempat khawatir apabila motorku turun ngglundung sendiri kembali ke bawah. "Masalah motor mah belakangan, membantu kakek tua ini lebih penting", pikirku. Setelah ku turunkan barang bawaan sang kakek yang cukup berat, ia memintaku agar mengantar cukup sampai di situ saja. Merasa gak tega mengantar sampai di situ, aku pun segera membawakan bawaan sang kakek sampai di rumahnya.

Cukup jauh jalan kaki kami berjalan dan belok-belok memasuki gang sempit. Sedangkan motorku ku tinggal di pinggir jalan tadi. Beberapa orang melihatku, mungkin karena aku masih mengenakan helm saat membawakan bawaan milik si kakek. Akhirnya kami tiba di depan halaman tujuan sang kakek. Terdengar sang kakek mengucapkan syukur sembari ia berjalan. Selama mengantar si kakek, terasa berbeda. Ada rasa bahagia saat membantunya. Sempat diajak mampir ke rumah sang kakek, tapi aku menolak. Aku pun pamitan dan kembali pulang. Sambil naik motor, aku berpikir "oh, ini yang mungkin dinamakan bahagia yang didapat dengan melakukan kebaikan kecil". Tulisan ini hanya sekedar cerita akan pengalamanku hari ini. Bukan untuk pamer, apalagi untuk pencitraan.




Mau terus dapat informasi terbaru dari aku ? Subscribe Blog Ini yahh.. :

7 Responses to "Kelelahan, Kakek Tua Itu Duduk di Pinggir Jalan"

  1. Aku bacanya juga ikut merinding Mas tran...

    ReplyDelete
  2. Bahagia itu sederhana, termasuk kala kita bisa membahagiakan orang lain ^^

    ReplyDelete
  3. Aish..tissue mana tissue..👍

    ReplyDelete